Senin, 01 Desember 2014

Burdah al Bushiri (bag 1)


===================
Cinta Sang Kekasih
===================
Apakah karena Mengingat Para kekasih di Dzi Salam. Kau campurkan air mata di pipimu dengan darah.

Ataukah karena angin berhembus dari arah Kazhimah. Dan kilat berkilau di lembah Idlam dalam gulita malam.

Mengapa bila kau tahan air matamu ia tetap basah. Mengapa bila kau sadarkan hatimu ia tetap gelisah.

Apakah sang kekasih kira bahwa tersembunyi cintanya. Diantara air mata yang mengucur dan hati yang bergelora.

Jika bukan karena cinta takkan kautangisi puing rumahnya. Takkan kau bergadang untuk ingat pohon Ban dan ‘Alam.

Dapatkah kau pungkiri cinta, sedang air mata dan derita. Telah bersaksi atas cintamu dengan jujur tanpa dusta.

Kesedihanmu timbulkan dua garis tangis dan kurus lemah. Bagaikan bunga kuning di kedua pipi dan mawar merah.

Memang terlintas dirinya dalam mimpi hingga kuterjaga. Tak hentinya cinta merindangi kenikmatan dengan derita.

Maafku untukmu wahai para pencaci gelora cintaku. Seandainya kau bersikap adil takkan kau cela aku.

Kini kau tahu keadaanku, pendusta pun tahu rahasiaku. Padahal tidakjuga kunjung sembuh penyakitku.

Begitu tulus nasihatmu tapi tak kudengar semuanya. Karena untuk para pencaci, sang pecinta tuli telinganya.

Aku kira ubanku pun turut mencelaku. Padahal ubanku pastilah tulus memperingatkanku.

sandarkanlah tujuan pada akhirat, lakukan dengan cara Rasullullah & pakailah aturan Al Qur'an & As Sunnah, itulah kehidupan yang selamat (islam)"

Shalawat Badar

Shalawat Nabi Shalawat Badar Bacaan Shalawat Badar: Shalaatullaah Salaamullaah ‘Alaa Thaaha Rasuulillaah Shalaatullaah Salaamullaah ‘Alaa Yaa Siin HabiibillaahTawassalnaa Bibismillaah Wabil Haadi Rasuulillaah Wakulli mujaa hidil lillaah,Bi Ahlil Badri Yaa Allaah Ilaahi Sallimil Ummah Minal Aafaati Wanniqmah Wamin Hammin Wamin Ghummah Bi Ahlil Badri Yaa Allaah Ilaahi Najjinaa Waksyif Jamii’a Adziyyatin Wahrif Makaa idal ‘idaa wal thuf Bi Ahlil Badri Yaa Allaah Ilaahi Naffisil Kurbaa Minal’Ashiina Wal’Athbaa Wakulli Baliyyatin Wawabaa Bi Ahlil Badri Yaa Allaah Wakam Min Rahmatin Washalat Wakam Min Dzillatin Fashalat Wakam Min Ni’matin Washalat Bi Ahlil Bailri Yaa Allaah Wakam Aghnaita Dzal ‘Umri Wakam Autaita D’Zal Faqri Wakam’Aafaita Dzal Wizri Bi Ahlil Badri Yaa Allaah Laqad Dlaaqat ’Alal Oalbi Jamii’ul Ardli Ma’ Rahbi Fa Anji Minal Balaas Sha’bi Bi Ahlil Badri Yaa A,llaah Atainaa Thaalibir Rifdi Wajullil Khairi Was Sa’di Fawassi’ Minhatal Aidii Bi Ahlil Badri Yaa Allaah Falaa Tardud Ma’al Khaibah Balij ’Alnaa ’Alath Thaibah Ayaa Dzal ‘lzzi Wal Haibah Bi Ahlil Badri Yaa Allaah Wain Tardud Faman Ya-Tii Binaili Jamii’i Haajaati Ayaa jalail mulimmaati Bi Ahlil Badri Yaa Allaah Ilaahighfir Wa Akrimnaa Binaili Mathaalibin Minnaa Wadaf i Masaa-Atin ‘Annaa Bi Ahlil Badri Yaa Allaah ilaahii Anta Dzuu Luthfin Wadzuu Fadl-Lin Wadzuu ‘Athfin Wakam Min Kurbatin Tanfii Bi Ahlil Badri Yaa Allaah Washalli ‘Alan Nabil Barri Bilaa ‘Addin Walaa Hashri Wa Aali Saadatin Ghurri Bi Ahlil Badri Yaa Allaah  

Arti dari Shalawat Badar atau Shalawat Badriyah : Rahmat dan keselamatan Allah, Semoga tetap untuk Nabi Thaaha utusan Allah, Rahmat dan keselamatan Allah, Semoga tetap untuk Nabi Yasin kekasih Allah’ Kami berwasilah dengan berkah “Basmalah”, Dan dengan Nabi yang menunjukkan lagi utusan Allah, Dan seluruh.orang yang berjuang karena Allah, Sebab berkahnya sahabat ahli badar ya Allah. Ya Allah, semoga Engkau menyelamatkan ummat, Dari bencana dan siksa, Dan dari susah dan kesempitan, Sebab berkahnya sahabat ahli badar ya Allah’ Ya Allah semoga Engkau selamatkan kami dari semua yang menyakitkan, Dan semoga Engkau (Allah) menjauhkan tipu dan daya musuh-musuh, Dan semoga Engkau mengasihi kami, sebab berkahnya sahabat Ahli Badar Ya Allah. Ya Allah, semoga Engkau menghilangkan beberapa kesusahan Dari orang-orang yang berma’siat dan semua kerusakan, Dan semoga Engkau hilangkan semua bencana dan wabah penyakit’ Sebab berkahnya sahabat ahli Badar ya Allah Maka sudah beberapa rahmat yang telah berhasil, Dan sudah beberapa dari kehinaan yang dihilangkan, Dan sudah banyak dari ni’mat yang telah sampai, Sebab berkahnya sahabal ahli Badar ya Allah’ Sudah berapa kali Engkau (Allah) memberi kekayaan orang yang makmur, Dan berapa kali Engkau (Allah) memberi nikmat kepacla orang yang fakir, Dan berapa kali Engkau (Allah) mengampuni orang yang berdosa, Sebab berkahnya sahabat ahli Badar ya Allah. Sungguh hati manusia merasa sempit di atas tanah yang luas ini; karena banyaknya marabahaya yang mengerikan, Dan malapetaka yang menghancurkan, semoga Allah menyelamatkan kami dari bencana yang mengerikan, Sebab berkahnya sahabat ahli Badar ya Allah.’ Kami datang dengan memohon pemberian/ pertolongan Dan memohon agungnya kebaikan dan keuntungan Semoga Allah meluaskan anugerah (keni’matan) yang melimpah-limpah. Dari sebab berkahnya ahli Badar ya Allah. Maka janganlah Engkau (Allah) menolak kami menjadi rugi besar, Bahkan jadikanlah diri kami dapat beramal baik, dan selalu bersuka ria. Wahai Dzat yang punya keagungan (kemenangan) dan Prabawa, Dengan sebab berkahnya sahabat ahli Badar ya Allah. Jika Engkau (Allah) terpaksa menolak hamba, maka kepada siapakah kami akan datang mohon dengan mendapat semua hajat kami; Wahai Dzat yang menghilangkan beberapa bencana dunia dan akhirat, hilangkan bencana-bencana hamba lantaran berkahnya sahabat ahli Badar ya Allah. Ya Allah, semoga Engkau rnengampuni kami dan memuliakan diri kami, dengan mendapat hasil beberapa permahonan kami, dan menolak keburukan-keburukan dari kami, Dengan mendapat berkahnya sahabat ahli Badar ya Allah. Ya Allah, Engkaulah yang punya belas kasihan, dan punya keutamaan (anugerah) lagi kasih sayang, Sudah banyaklah kesusahan yang hilang, Dari sebab berkahnya sahabat ahli Badar ya Allah. Dan semoga Engkau (Allah) melimpahkan rahmat kepada Nabi yang senantiasa berbakti kepada-Nya, dengan limpahan rahmat dan keselamatan yang tak terbilang dan tak terhitung, Dan semoga tetap atas para keluarga Nabi dan para Sayyid yang bersinar nur cahayanya, sebab berkahnya sahabat ahli Badar ya Allah. —-+++—–
By: Abi_Yadi

Biografi Habaib

Al Habib Abdullah bin Umar Asy-SyathiriBiografi singkat Al Habib Abdullah bin Umar Asy-Syathiri (Ayahanda Habib Salim Bin Abdullah Bin Umar Assyathiry) Sebagaimana buah yang jatuhnya tidaklah jauh dari pohonnya, demikian kata pepatah yang mengibaratkan ke-eratan hubungan antara anak dan orang-tuanya. Tulisan ini akan mengupas sedikit tentang biografi ayahanda seorang ulama kenamaan asal bumi auliya’ Tarim al-Ganna ini Sayyid Salim bin Abdullah asy-Syarthiri, sebagaimana beliau yang kini tengah mengasuh sebuah lembaga pendidikan Islam “Rubath Tarim” yang dari rahimnya banyak terlahir ulama yang konsisten memperjuangkan nilai-nilai keislaman di segenap penjuru Yaman hingga luar negri, ayahanda beliau yaitu Sayyid Abdullah asy-Syathiri juga merupakan murabbi yang banyak memberikan kontribusi terhadap lembaga pendidikan Islam tersebut. Beliau adalah Al-Imam Al-Allamah Syaikhul Islam Habib Abdullah bin Umar bin Ahmad bin Umar bin Ahmad bin Umar bin Ahmad bin Ali bin Husein bin Muhammad bin Ahmad bin Umar bin Alwi (Asy-Syatiri) bin Faqih Ali Al-Qadhi bin Ahmad bin Muhammad Asadullah bin Hasan At-Turabi bin Ali bin Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali bin Muhammad (Shahib Al-Mirbath) bin Ali (Khali’ Al-Qasam) bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa Al-Muhajir bin Muhammad bin Al-imam Ali Al-’Uraidhi bin Ja’far As-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal ‘Abidin bin Husein As-Sibth bin Ali bin Abi Thalib dan Sayyidatina Fatimah Az-Zahra binti Rasulullah Muhammad SAW. Beliau dilahirkan di kota Tarim Al-Ganna’ (Hadramaut) pada bulan Ramadhan tahun 1290 H. dari pasangan yang mulia Habib Umar bin Ahmad Asy-Syatiri (wafat tahun 1350 H) dan Syarifah Nur binti Umar bin Abdullah bin Syihab. Riwayat dan Perjalanan Pendidikan Di masa emasnya yaitu masa pertumbuhan, beliau telah digembleng dan menerima pendidikan agama yang kental dari keluarganya. Mulai dari baca tulis, talaqqi al-Qur’an hingga fiqih dan tasawuf sebagai bekal kelak meniti jalan ilmu yang terjal dan penuh dengan tantangan serta membutuhkan kesabaran. Rasa hausnya akan ilmu pengetahuan membuat beliau tak jera dan tak kenal lelah untuk menggali dan menyerap pelajaran dari guru-guru serta kibar masyaikh Tarim kala itu termasuk diantaranya adalah mufti diyar Hadramiyah Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur dan putranya yaitu Habib Ali bin Abdurrahman Al-Masyhur. Tidak cukup sampai di situ, beliau juga “nyantri” keluar dari kampung halamannya menuju kota Seiyun, sebuah kota yang kini dapat ditempuh dengan kendaraan umum selama satu jam. Di Seiyun beliau tinggal selama 4 bulan di Rubath Habib Ali. Ketika usianya menginjak remaja sekitar umur 20 tahun, beliau bersama dengan ayahanda tercinta pergi keluar kota tepatnya ke Haramain untuk melaksanakan ibadah haji, setibanya di sana sang anak yang begitu menggelora untuk mencari mutiara ilmu berkehendak untuk memperdalam lagi pengetahuan agamanya dengan berguru pada ulama-ulama yang ada di Mekkah. Apalah daya, sang ayah tak dapat menolak I’tikad putranya itu dan pada akhirnya mengabulkan niatanya untuk mengunduh ilmu di kota suci Mekkah. Restu dari ayahandanya tidak disia-siakan begitu saja, di hari-hari menuntut ilmu di Makkah, jam istirahat beliau tidak melebihi dari dua jam dalam sehari semalam, hal itu dikarenakan semua waktunya diinfakkan untuk menimba ilmu. Dan dalam hidup kesehariannya beliau mampu belajar tiga belas mata pelajaran, dan semuanya dikaji (muthala’ah) kembali setelah belajar. Adapun semua surat yang dilayangkan oleh ayahnya yang isinya memohon beliau untuk pulang ke kampung halaman, oleh beliau diletakkan begitu saja di bawah tempat tidur tanpa dipedulikannya, semua ini mencerminkan akan kehausnya beliau terhadap ilmu pengetahuan dan ketertarikan beliau terhadap ilmu yang bersih dan suci dari tempat yang mulia. Kiprahnya dalam Kancah Pendidikan dan Dakwah Dalam waktu yang relative singkat Habib Abullah asy-Syathiri dapat menyerap berbagai macam disiplin ilmu agama, maka dengan kapabilitas keilumaannya yang tinggi meskipun umur beliau masih tergolong belia kurang lebih 23 tahun, namun beliau telah layak untuk mengemban sebuah amanah besar yaitu melanjutkan perjuangan orang-tua beliau yaitu mengajar sekaligus memimpin administrasi di Rubat Tarim sepulangnya dari kota Mekkah, karena memang ketika itu sangat diperlukan tenaga menejeman. Namun kajian umum seperti “rouhah” dan “madras” yang rutin diadakan setiap hari Sabtu dan Rabu masih diampu oleh para guru-guru sepuh yaitu mufti hadhramiyah al-allahmah habib Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur. Khidmah beliau terhadap ilmu serta penyebarannya kesegala penjuru dan kalangan sangatlah besar sebagaimana tercermin dari ucapan Habib Alwi bin Muhammad Al-Muhdhar bahwa beliau tidak mendapati daerah yang di dalamnya ada madrasah atau tempat mencari ilmu kemudian ditanyakan kepada siapa mereka belajar kecuali jawabannya adalah mereka berguru pada Habib Abdullah Syathiri atau murid dari muridnya. Selain mengajar di Rubat Tarim beliau juga mengisi kegiatan baca mauled nabawi yang rutin dilaksanakan di masjid jami’ Tarim tiap malam Jum’at yang dilanjutkan dengan muhadharah dan dakwah terhadap para hadirin, kegiatan ini berlangsung setelah wafatnya guru beliau Habib Alwi bin Abdurrahman bin Abi Bakar Al-Masyhur, meskipun beliau sering juga seringkali menggantikan gurunya kala berhalangan untuk hadir. Beliau juga Sering kali mengadakan kegiatan membuka majlis di Tarim selain kegiatan ta’lim di Rubath, dan biasanya hadirin yang datang tidak sedikit baik dari kalangan ulama maupun masyarakat Tarim lebih-lebih lagi kalangan thalabah Rubath sendiri. Sedangkan untuk pengajian di Rubath tiap habis shalat Subuh, Ashar dan Maghrib tidak pernah beliau tinggalkan bagaimanapun keadaanya kecuali ada halangan syara’, bahkan beliau sering memaksakan diri untuk hadir dan mengalami banyak kepayahan dan kesulitan. Apabila mengalami sakit sehingga tidak bisa berjalan ke Rubath untuk mengajar maka beliau memanggil para thalabah untuk datang ke rumahnya dan menyuruh mereka membaca kitab dihadapannya karena beliau ingin sekali agar thalabah tidak menyia-nyiakan waktu sehingga semuanya mendapatkan faidah ilmu. Beliau sering berujar: “kami datang (ke Rubath) dengan sakit kepala dan beberapa penyakit maka kami berobat dengan mendengarkan ilmu (bacaan kitab dari para santri).” Dan berkata pula: “jangan kalian sangka wahai anak-anakku (sapaan beliau terhadap para santri) bahwa tidak ada bagi kami teman yang meminta kepada kami untuk datang ketempat mereka untuk menghadiri jamuan secangkir kopi dan sedikit makanan, akan tetapi kami berpaling dari mereka (menolak untuk menghadirinya) dan kami lebih mengutamakan kalian, dengan harapan dapat memberikan kalian manfaat ilmu.” Diantara kebiasaan beliau di akhir hidupnya adalah jalan berkeliling mengontrol halaqah-halaqah yang ada di Rubath, hal itu beliau lakukan setelah shalat Subuh setiap harinya selain hari selasa, kamis dan Jum’at. Semua halaqah beliau datangi dan menanyakan apakah gurunya hadir atau tidak?. Apabila ada diantara dewan gurunya tidak hadir, maka beliau meminta seseorang untuk menemuinya dan memintanya hadir sedangkan beliau duduk di halaqah tersebut untuk menggantikan sementara sampai guru yang dipanggil tadi datang. Dan apabila seluruh dewan gurunya hadir semua, maka beliau duduk ditengah-tengah santri dalam suatu halaqah yang diinginkannya dan menanyakan tentang apa yang mereka baca dan membahas masalah yang sulit dipahami. Para santri pun sangat senang dan gembira dengan berkelilingnya guru besar mereka, menemui dan memberikan mereka semangat dalam belajar sehingga masing-masing dari mereka ingin diperhatikan oleh sang maha guru. Hampir satu bulan lebih sebelum wafat, beliau sakit, menderita penyakit yang sedari dulu tak kunjung sembuh yaitu gejala penyakit ambien (wasir) dengan sering keluar angin dari dubur beliau, beliau sudah mencoba berobat kepada beberapa orang dokter tetapi hasilnya tetap saja nihil. Akan tetapi semua itu tidak mengganggu aktivitas beliau dalam beribadah, semua shalat fardhu beliau laksanakan bahkan terkadang menyuruh anak-anaknya atau sebagian dari muridnya untuk membaca kitab dihadapan beliau. Pada tanggal 7 Jumadil Ula 1361 H. (menurut keterangan Sayyid Muhammad bin Hafizh dari Sayyid Muhammad Al-Mahdi) yaitu dua puluh hari sebelum wafatnya, beliau menyuruh hadir/datang seluruh anak-anaknya, kerabat dan keluarga semuanya baik laki-laki ataupun perempuan. Beliau berwasiat kepada mereka supaya saling kasih mengasihi, sayang menyayangi, saling membantu satu sama lain. Dan beliau membritahu mereka bahwa tidak lama lagi beliau akan meninggalkan mereka untuk menemuai kehadhirat Allah Swt. Mendengar perkataan tersebut menangislah seluruh yang hadir. Pada hari Jum’at tanggal 28 Jumadil Ula beliau sudah tidak mau bicara, kemudian setelah shalat Jum’at anak-anak beliau membukakan pintu rumah kepada siapa saja yang ingin berziarah atau ingin ambil berkah, maka dengan spontan orang berdatangan kerumah beliau. Pada malam sabtu tanggal 29 Jumadil Ula 1361 H. dua puluh empat menit setelah tenggelam matahari ruh beliau diambil Yang Maha Kuasa, jenazah beliau dishalatkan di Jabannah setelah shalat Ashar sore hari Sabtu. Banyak orang berdatangan dari penjuru daerah seperti Syibam, Seiyun, Qasam, Inad dan lain-lain untuk menghadiri shalat jenazah Habib Abdullah Asy-Syatiri. Pada kesempatan itu turut hadir ulama-ulama besar Hadhramaut seperti Habib Mustafa bin Abdullah bin Smith, Habib Muhammad bin Hadi As-Seggaf, Habib Muhammad bin Ali Al-Habsyi dan banyak lagi selain dari mereka. Jenazah beliau dimakamkan di Turbah Zanbal Tarim berdekatan dengan ibunya Hababah Nur binti Umar bin Abdullah bin Syihabiddin tepatnya dibawah kaki ibunya tafaulan bahwa surga ditelapak kaki ibu. Kota Tarim berduka dengan wafatnya sang guru yang sangat dicintai muridnya, tetesan air mata pun tak mampu dibendung, para santri merasa kaku tak mampu untuk bicara ditinggal sang panutan yang telah berjasa membimbing mereka. Masyarakat Tarim pun bersedih ditinggalkan salah seorang suri tauladan yang bijaksana telah tiada pergi untuk selama-lamanya. Semoga Allah membalas jerih payah beliau dalam membimbing umat dan dakwah ilallah.

Kenalilah Allah waktu kamu senang, niscaya Allah akan mengenalimu waktu kamu dalam kesulitan.

(HR. Tirmizi)"

Biografi Habaib

Al Habib Ahmad Bin Alwi Al Haddad (Habib Kuncung)Sekilas Riwayat Al Habib Ahmad Bin Alwi Al Haddad (Habib Kuncung) – Rawajati Timur II, Rawajati Jakarta Selatan Al Habib Ahmad Bin Alwi Al Haddad adalah seorang WaliAllah yang memiliki khoriqul a’dah yaitu diluar kebiasaan manusia umumnya atau disebut dalam bahasa kewalian "Majdub" atau disebut dengan ahli Darkah maksudnya disaat orang dalam kesulitan dan sangat memerlukan bantuan maka beliau muncul dengan tiba-tiba. Habib Kuncung lahir di Gurfha, Hadramaut, Tarim pada tanggal 26 syaban 1254 H dan beliau belajar kepada ayahanda beliau sendiri Al habib Alwi Al Haddad dan belajar pula kepada Al habib Ali Bin Husein Al Hadad, Hadramaut, Al Habib Abdurrahman Bin Abdullah Al Habsyi dan kepada Habib keramat Empang Bogor, Al Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Attas. Karena sering memakai kopyah atau topi yang menjulang keatas (kuncung; bahasa Jawa) maka beliau digelari Habib Kuncung. Dikala beliau dewasa beliau didatangi oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam yang akhirnya beliau ziarah ke Madinah, selanjutnya dalam bisyarah beliau disuruh ke Pulau Jawa oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. Habib (Kuncung) Ahmad bin Alwi Al-Haddad termasuk keluarga Nabi saw, keturunan ke 40. secara garis besar kehidupan Habib Kuncung sangat misterius. Tak ada yang mengetahui kapan beliau lahir. Habib Kuncung hanya diketahui lahir di Hadramaut, sebuah daerah di Yaman. Identitas yang melekat pada dirinya adalah pedagang. Berdagang memang sudah beliau dilakukan saat beliau masih muda. Posisi inilah yang membuatnya mengenal wilayah Asia tenggara saat beliau berdagang sampai ke Singapura. Habib Kuncung pedagang yang lumayan sukses di Singapura. "Beliau sampai memiliki peninggalan harta benda yang di tahun 20an lalu senilai dengan harga 30 rumah disini." Ujar Habib Salim bin Ahmad, salah satu kerabatnya di Rawajati. Mobilitas dirinya sebagai pedagang juga yang membuatnya menginjak Tanah Bugis dan memperoleh istri disana. Namun tak ada yang mengenal siapa istri Habib Kuncung itu. Dari perkawinan tersebut diketahui lahir seorang putra bernama Muhammad yang kemudian mewarisi harta peninggalan Habib Kuncung di Singapura. Namun sayang Habib Muhammad kemudian meninggal dunia hingga terputuslah garis keturunan Habib Kuncung. Habib Kuncung selalu hidup berpindah-pindah. Tak ada yang dapat memastikan Habib Kuncung menetap disatu tempat tertentu. Beliau hadir dan pergi sesukanya. Hanya, beliau memiliki tempat singgah di Kampung Melayu, yakni rumah seorang pegawai gubernuran Batavia yang menjadi temannya. Habib Kuncung sering muncul di Majelis ulama kalangan Habaib di Jakarta yang dipusatkan di Kediaman Habib Ali Al-Habsyi Kwitang. Namun beliau dikenal masyarakat Bogor, karena banyak menghabiskan waktu disana. Sebutan "kuncung" yang menjadi gelarnya juga berasal dari Bogor. Masyarakat disana menyebutnya seperti itu karena beliau selalu mengenakan topi kuncung. Hidupnya yang bergaya pengembara membuat tak banyak orang mengetahui sejarahnya secara persis. Beliau hadir dan dikenal masyarakat sebagai seorang ulama yang misterius tapi berilmu tinggi. Banyak orang yang apabila mengalami masalah berat menghadap kepadanya dan meminta nasihat maupun fatwa, jika kebetulan dapat bertemu, Habib Kuncung pasti memberikan nasihat yang merujuk pada Al-Qur’an dan Hadits. Beliau menunjuki pokok-pokok penyelesaian beserta literaturnya dan kemudian menyuruh si peminta fatwa mengecek serta mengkajinya sendiri. Jika para ulama berkumpul dan membaca sebuah kitab, selalu Habib Kuncung yang membaca kitab itu, karena suaranya yang bagus serta penguasaan bahasa arabnya yang tinggi. Belakangan, Tapi ini diyakini merupakan hal yang disengaja karena beliau tak ingin dilebih-lebihkan orang. Saat itu beliau memang sudah mulai menunjukkan beberapa "kelebihannya". Pernah satu ketika para ulama berkumpul di Kwitang. Mereka ingin melakukan perjalanan ke Cirebon memenuhi sebuah undangan. Saat itu Habib Kuncung agak terlupakan hingga tidak ikut rombongan ke stasiun. Para ulama berangkat pada pukul 7.30 pagi. Sesampainya di stasiun Cirebon, ternyata para ulama menemukan Habib Kuncung sudah disana. Ketika ditanya, beliau mengaku sudah berada di stasiun itu sejak pukul 7.30. rupanya ketika rombongan ulama berangkat ke stasiun, naik kereta menuju Cirebon, Habib Kuncung juga berangkat ke Cirebon tapi dengan caranya sendiri. Pernah pula suatu ketika Habib Kuncung membakar sampah dalam lubang besar, disekitar lubang itu terdapat pohon pisang. Rupanya pohon pisang itu sengaja ditanam orang. Terang saja, melihat lubang sampah itu dibakar, pemilik pohon pisang marah besar kepada Habib Kuncung. Habib Kuncung hanya diam hingga api itu padam. Ternyata pohon pisang itu tak ada yang mati, bahkan kemudian malah lebih bagus tumbuhnya. Karomahnya yang lain; setipa kali Habib Kuncung memakai jasa tukang delman, delman itu pasti pulang lebih awal karena setoran menjadi mudah tercukupi. Kusirnya juga akan pulang dengan uang yang lebih dari biasanya. Makanya banyak sekali tukang delman yang mengharap-harap agar delmannya dinaiki Habib Kuncung. Sekalipun bersikap aneh dan selalu muncul – menghilang, orang-orang mengenang Habib Kuncung sebagai pribadi terhormat yang saleh. Hal-hal yang dilakukannya merupakan satu bentuk ketawadukan. Beliau tak ingin orang memuja-muja dirinya dan punya pikiran macam-macam. Beliau ingin dikenal sebagai orang biasa saja. Begitu tawaduknya Habib Kuncung, beliau tak pernah mau menerima hadiah, baik uang maupun pakaian. Beliau hanya ingin dapat tampil seperti biasa, apa adanya. Sekalipun begitu tak ada orang yang meragukan kapasitas Habib Kuncung sebagai Waliyullah. Makanya setelah wafat beliau mendapat kehormatan sedemikian rupa. Sekarang masih banyak orang menziarahi makam Kramat Wali Allah Al Habib Ahmad Bin Alwi Al Haddad Habib Kuncung, di Rawajati Timur II, Jakarta selatan. Orang dapat merenungkan kembali mengenai hidup yang harus dijalani dengan tawaduk dan keshalehan yang utuh. akhirnya pada tahun 1345 H tanggal 29 Syaban sekitar tahun 1926 M pada usia 93 tahun beliau, Al Habib Ahmad Bin Alwi Al Haddad, kembali ke rahmatullah dan di makamkan di pemakaman keluarga Al Haddad di Rawajati Timur II, Jakarta Selatan dan setiap hari Minggu ketiga bulan Rabiul Awal diadakan peringatan Maulid Nabi di pemakaman beliau bada Ashar. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala merahmati kita semua dan membimbing kita untuk semakin dekat dan mencitai para WaliAllah. Aamin...http://play.google.com/store/apps/details?id=alif.media.biografi.habaib.ulama

Biografi Habaib

AL-HABIB ZEIN BIN IBROHIM BIN SMITHAL-HABIB ZEIN BIN IBROHIM BIN SMITH (Pengurus Rubath di Madinah) Habib Zein seorang yang tinggi kurus. Lidahnya basah, tidak henti berzikrullah. Beliau sentiasa menghidupkan malamnya. Di waktu pagi Habib Zein keluar bersolat Subuh di Masjid Nabawi. Beliau beriktikaf di Masjid Nabawi sehingga matahari terbit, setelah itu beliau menuju ke Rubath untuk mengajar. Majlis Rauhah setelah asar hingga maghrib. HABIB ZEIN lahir di ibukota Jakarta pada 1357/1936. Ayahnya, Habib Ibrahim adalah ‘ulama besar di bumi Betawi kala itu. Selain keluarga, lingkungan tempat dimana mereka tinggal pun boleh dikatakan sangat religius. Guru-guru Habib Zein ialah Habib Muhammad bin Salim bin Hafiz, Habib Umar bin Alwi al-Kaf, al-Allamah al-Sheikh Mahfuz bin Salim, Sheikh Salim Said Bukayyir Bagistan, Habib Salim bin Alwi al-Khird, Habib Ja’far bin Ahmad al-Aydrus, Habib Muhammad al-Haddar (mertuanya) dan ramai lagi. Selanjutnya, pada usia empat belas tahun (1950), ayahnya memberangkatkan habib Zain ke Hadramaut, tepatnya kota Tarim. Di bumi awliya’ itu Habib Zain tinggal di rumah ayahnya yang telah lama ditinggalkan. Menyadari mahalnya waktu untuk disia-siakan, Habib Zein berguru kepada sejumlah ulama setempat, berpindah dari madrasah satu ke madrasah lainnya, hingga pada akhirnya mengkhususkan belajar di Ribath Tarim. Di pesantren ini nampaknya Habib Zain merasa cocok dengan keinginannya. Di sana ia memperdalam ilmu agama, antara lain mengaji kitab ringkasan (mukhtashar) dalam bidang fikih kepada Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz. Dibawah asuhan Habib Muhammad pula, Habib Zain berhasil menghapalkan kitab fikih buah karya Imam Ibn Ruslan, “Zubad”, dan “Al-Irsyad” karya Asy- Syarraf Ibn al-Muqri. Tak cukup di situ, Habib Zain belajar kitab “Al-Minhaj” yang disusun oleh Habib Muhammad sendiri, menghapal bait-bait (nazham) “Hadiyyahas-Shadiq” karya Habib Abdullah bin Husain bin Thahir dan lainnya. Dalam penyampaiannya, di Tarim beliau sempat berguru kepada sejumlah ulama besar. Seperti Habib Umar bin Alwi al-Kaf, Syekh Salim Sa’id Bukhayyir Bagitsan, Habib Salim bin Alwi al-Khird, Syekh Fadhl bin Muhammad Bafadhl, Habib Abdurrahman bin Hamid as-Sirri, Habib Ja’far bin Ahmad al-Aydrus, Habib Ibrahim bin Umar bin Agil dan Habib Abu Bakar al-Atthas bin Abdullah Al-Habsyi. Selain menimba ilmu, di sana Habib Zain banyak mendatangi majlis para ulama demi mendapat ijazah, semisal Habib Muhammad bin Hadi as-Seggaf, Habib Ahmad bin Musa al-Habsyi, Habib Alwi bin Abbas al-Maliki al-Makki, Habib Umar bin Ahmad bin Sumaith, Habib Ahmad Masyhur bin Thaha al-Haddad, Habib Abdul Qadir bin Ahmad as-Seggaf dan Habib Muhammad bin Ahmad as-Syatiri. Demikianlah. Melihat begitu banyaknya ulama yang didatangi, dapat disimpulkan, betapa besar semangat Habib Zain dalam rangka merengkuh ilmu pengetahuan agama, apalagi melihat lama waktu beliau tinggal di sana, yaitu kurang lebih delapan tahun. Di rasa ilmu yang didapatkan cukup, salah seorang gurunya bernama Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz menyarankannya pindah ke kota Baidhah, salah satu wilayah pelosok bagian negeri Yaman, utuk mengajar di ribath di sana sekaligus berdakwah. Ini dilakukan menyusul permohonan mufti Baidhah, Habib Muhammad bin Abdullah al-Haddar. Dalam perjalanan ke sana, Habib Zain singgah dulu di kediaman seorang teman dekatnya di wilayah Aden, Habib Salim bin Abdullah as-Syatiri, yang saat itu menjadi khatib dan imam di daerah Khaur Maksar. Di sana Habib Zain tinggal beberapa saat. Selanjutnya, Habib Zein melanjutkan perjalanannya. Maka dapat ditebak, sesampai di Baidhah, Habib Zain pun mendapat sambutan hangat dari sang tuan rumah, Habib Muhammad al-Haddar. Di sanalah untuk pertama kali ia mengamalkan ilmunya lewat mengajar. Habib Zein menetap lebih dari 20 tahun di Rubath Baidha’ menjadi khadam ilmu kepada para penuntutnya. Beliau juga menjadi mufti dalam Madzhab Syafi’e. Setelah itu beliau berpindah ke negeri Hijaz. Selama 12 tahun Habib Zein telah bersama-sama dengan Habib Salim al-Syatiri menguruskan Rubath di Madinah. Setelah itu Habib Salim telah berpindah ke Tarim, Hadhramaut untuk menguruskan Rubath Tarim. Habib Zein di Madinah diterima ramai. Keterampilan dan wibawanya terserlah. Muridnya banyak dan terus bertambah. Dalam kesibukan mengajar dan usianya yang juga semakin meningkat, keinginan untuk terus menuntut ilmu tidak pernah pudar. Beliau mendalami ilmu Usul daripada Sheikh Zaydan al-Syanqiti al-Maliki. Habib Zein terus menyibukkan diri menuntut dengan Al-Allamah Ahmaddu bin Muhammad Hamid al-Hasani al-Syanqiti dalam ilmu bahasa dan Usuluddin.http://play.google.com/store/apps/details?id=alif.media.biografi.habaib.ulama