Jumat, 04 September 2015

Detik-detik Wafatnya Syekh Abdul Qadir al-Jailani

Jasadnya memang sudah terkubur lebih dari delapan abad. Namun nama dan tauladan hidupnya tetap membekas kuat di kalangan umat Islam. Dialah Syekh Abdul Qadir al-Jailani, ulama sufi kelahiran Persia yang kemasyhurannya setingkat dunia.

Syekh Abdul Qadir terkenal sebagai pribadi yang teguh dalam berprinsip, sang pencari sejati, dan penyuara kebenaran kepada siapapun, dan dengan risiko apapun. Usianya dihabiskan untuk menekuni jalan tasawuf, hingga ia mengalami pengalaman spiritual dahsyat yang mempengaruhi keseluruhan hidupnya. Jejak Syekh Abdul Qadir juga dijumpai dalam belasan karya orisinalnya.

Selain mewarisi banyak karya tulisan, Syekh Abdul Qadir meninggalkan beberapa buah nasehat menjelang kewafatannya. Akhir hayat Syekh didahului dengan kondisi kesehatannya yang terus menurun. Kala itu putra-putranya menghampiri dan mengajukan sejumlah pertanyaan.

”Berilah aku wasiat, wahai ayahku. Apa yang harus aku kerjakan sepergian ayah nanti?” tanya putra sulungnya, Abdul Wahab.

”Engkau harus senantiasa bertaqwa kepada Allah. Jangan takut kepada siapapun, kecuali Allah. Setiap kebutuhan mintalah kepada-Nya. Jangan berpegang selain kepada tali-Nya. Carilah segalanya dari Allah,” jawab sang ayah.

”Aku diumpamakan seperti batang yang tanpa kulit,” sambung Syekh Abdul Qadir. ”Menjauhlah kalian dari sisiku sebab yang bersamamu itu hanyalah tubuh lahiriah saja, sementara selain kalian, aku bersama dengan batinku.”

Putra lainnya, Abdul Azis, bertanya tentang keadaannya. ”Jangan bertanya tentang apapun dan siapapun kepadaku. Aku sedang kembali dalam ilmu Allah,” sahut Syekh Abdul Qadir.

Ketika ditanya Abdul Jabar, putranya yang lain, ”Apakah yang dapat ayahanda rasakan dari tubuh ayahanda?” Syekh Abdul Qadir menjawab, ”Seluruh anggota tubuhku terasa sakit kecuali hatiku. Bagaimana ia dapat sakit, sedang ia benar-benar bersama dengan Allah.”

”Mintalah tolong kepada Tuhan yang tiada tuhan yang wajib disembah kecuali Dia. Dialah Dzat yang hidup, tidak akan mati, tidak pernah takut karena kehilangannya.” Kematian pun segera menghampiri Syekh Abdul Qadir.

Syekh Abdul Qadir al-Jainlani menghembuskan nafas terakhir di Baghdad, Sabtu bakda maghrib, 9 Rabiul Akhir 561 H atau 15 Januari 1166 M, pada usia 89 tahun. Dunia berduka atas kepulangannya, tapi generasi penerus hingga sekarang tetap setia melanjutkan ajaran dan perjuangannya.

Kenapa wanita mesti memakai jilbab?

Saudariku, karena wanita itu dijaga oleh Allah swt Kenapa wanita mesti memakai jilbab? , Allah swt tidak bisa dilihat oleh siapapun, kecuali kelak orang - orang yang dekat pada-Nya swt, demikian Allah swt memuliakan wanita, agar jangan terlihat kecuali oleh orang - orang dari kerabat dekatnya, sebagaimana sesuatu perhiasan yang indah dan sangat berharga, mestilah tak bisa diobral untuk dilihat dan disentuh sembarang orang, dijaga kehormatannya. Demikian pula wanita, tidak sembarang pria bebas melihatnya, hingga harga diri wanita sangat terhormat dan termuliakan, demikian sadariku. Untuk dalilnya bisa dilihat pada QS. Annur : 31, diwajibkan setiap wanita muslimah memakai cadar, namun Imam Syafii memberi keringanan untuk wanita yang bekerja untuk boleh membuka wajah dan kedua telapak tangannya.

Kamis, 03 September 2015

Shalat saya belum mencapai khusyu, apakah shalat saya diterima?

Semua shalat diterima oleh Allah swt kecuali yang rukunnya tidak terpenuhi (jika tidak tahu maka dimaafkan, dan bisa berdosa jika tak mau belajar padahal ada yang bisa mengajarinya), dan khusyu bukanlah rukun shalat, namun adalah dengan khusyu maka semakin besar pahala kita, untuk menambah kekhusyuan saat shalat, ingatlah kematian kita, ketika tangan - tangan para kekasih mengusung kita dan menurunkan tubuh kita ke dalam liang lahat dengan airmata kesedihan, tahukah keadaan kita?, seluruh tali pengikat kafan dibuka, lalu wajah dibuka dari kafan, tubuh ditaruh dalam posisi miring menghadap ke kanan yaitu kiblat, lalu punggung kita diganjal batu bata agar tubuh tidak terlentang lagi, yaitu tetap miring menghadap kiblat, dan wajah kita ditempelkan ke dinding kubur, agar terus wajah kita mencium tanah dinding kubur yang lembab itu, setelah itu kita sendiri disana, dalam kesempitan dan kegelapan.., panas.. gelap..sendiri.. bukan sebulan atau dua bulan, tapi bisa ratusan tahun atau ribuan tahun sendiri, yang ditunggu adalah sidang akbar pertanggungan jawab.. harap - harap cemas dan penyesalan.. Ketika mengingat ini maka leburlah segala kekerasan hati, ia pun mencair, dan jiwa terpanggil untuk sujud sambil menangis, mengadu pada Allah jika ingat akan hal itu karena hanya Dialah yang melihat keadaan kita saat itu.. Hanya Dialah yang ada saat itu.. untuk inilah kita shalat.. agar Dia swt tak melupakan kita saat itu dan mengasihani kita yang telah terbujur kaku di dalam tanah lembab ribuan tahun..

Apa kiat - kiat untuk yang tertimpa masalah dan kesedihan?

Ketahuilah bahwa musibah dan kenikmatan selalu datang silih berganti bagaikan siang dan malam. Namun Allah swt Maha Adil dan Bijaksana, manusia di siang hari disiapkan pepohonan untuk berteduh dan bisa membangun rumah - rumah untuk berteduh dari panasnya matahari. Demikian pula di malam hari Allah swt menyiapkan api untuk pelita, bahkan kini listrik dari kekuatan alam yang dari Allah swt agar manusia bisa terang - benderang di malam hari. Demikian pula dalam kenikmatan jika kita bersyukur maka Allah akan menambahnya, namun jika datang musibah Allah menyiapkan doa untuk segera menerangi kegelapan musibah dengan terang - benderangnya kemudahan.

Semoga hari - hari anda selalu dalam sakinah iman dan kebahagiaan, dan jika datang musibah semoga Allah swt meneranginya dengan cahaya kemudahan hingga kegelapan musibah sirna seakan tiada.

Sabtu, 29 Agustus 2015

Seorang Wanita Menasihati Sang Alim

Imam Malik rahimahullah meriwayatkan sebuah kisah dalam kitab al-Muwaththa’, dari Yahya bin Sa’id dari al-Qasim bin Muhammad, bahwa dia berkata, “Salah satu istriku meninggal dunia, lalu Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi mendatangiku untuk bertakziah atas (kematian) istriku, lalu beliau mengatakan,

‘Sesungguhnya, dahulu di zaman Bani Israil ada seorang laki-laki yang faqih, ‘alim, abid, dan mujtahid. Dia memiliki seorang istri yang sangat ia kagumi dan cintai. Lalu meninggallah sang istri tersebut, sehingga membuat hatinya sangat sedih. Dia merasa sangat berat hati menerima kenyataan tersebut, sampai-sampai ia mengunci pintu, mengurung diri di dalam rumah, dan memutus segala hubungan dengan manusia, sehingga tidak ada seorang pun yang dapat bertemu dengannya.

Lalu ada seorang wanita cerdik yang mendengar berita tersebut, maka dia pun datang ke rumah Sang Alim seraya mengatakan kepada manusia, “Sungguh, saya sangat memerlukan fatwa darinya dan saya tidak ingin mengutarakan permasalahan saya, melainkan harus bertemu langsung dengannya.” Akan tetapi, semua manusia tidak ada yang menghiraukannya. Walau demikian, ia tetap berdiri di depan pintu menunggu keluarnya Sang Alim. Dia berujar, ‘Sungguh, saya sangat ingin mendengarkan fatwanya.’ Lalu, salah seorang menyeru, ‘(Wahai Sang Alim) sungguh di sini ada seorang wanita yang sangat menginginkan fatwamu. Dan wanita itu menambahkan, ‘Dan aku tidak ingin mengutarakannya melainkan harus bertemu langsung dengannya tanpa ada perantara.’ Akan tetapi, manusia pun tetap tidak menghiraukannya. Meski demikian, dia tetap berdiri di depan pintu dan tidak mau beranjak.

Akhirnya, Sang Alim menjawab, ‘Izinkanlah dia masuk.’ Lalu, wanita itu pun masuk dan mengatakan, “Sungguh, aku datang kepadamu karena suatu pemasalahan.’ Sang Alim menjawab, “Apakah pemasalahanmu?’ Wanita memaparkan, “Sungguh, aku telah meminjam perhiasan kepada salah satu tetanggaku dan aku selalu memakainya sampai beberapa waktu lamanya, lalu suatu ketika mereka mengutus seseorang kepadaku untuk mengambil kembali barang itu kepadanya?’ Maka, Sang Alim menjawab, ‘Iya, demi Allah, engkau harus memberikan kepada mereka.’ Lalu sang wanita menyangkal, ‘Tetapi, aku telah memakainya sejak lama sekali.’ Sang Alim menjawab, ‘Tetapi mereka lebih berhak untuk mengambil kembali barang yang telah dipinjamkan kepadamu sekalipun telah sejak lama.’ Lalu, wanita itu mengatakan, ‘Wahai Sang Alim, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatimu. Mengapakah engkau juga merasa berat hati untuk mengembalikan sesuatu yang telah dititipkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadamu, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin mengambil kembali titipan-Nya, sedang Dia lebih berhak untuk mengambilnya darimu?’ Maka, dengan ucapan itu tersadarlah Sang Alim atas peristiwa yang sedang menimpanya dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan perkataan si wanita tersebut dapat bermanfaat dan menggugah hatinya.

Kisah di atas diriwayatkan oleh Imam Malik dalam al-Muwaththa’ dalam kitab al-Jana’iz Bab Jami’ul-Hasabah fil-Mushibah (163).

Senin, 02 Maret 2015

HUKUM BAYI TABUNG

Hukum bayi tabung dan bagaimana nasabnya ada 4 cara haram dan 2 cara halal.

4 cara yang haram :

1.Pembuahan luar dari sperma suami dan sel telur perempuan lain kemudian dimasukkan ke rahim isteri

2.Pembuahan luar dari sperma laki – laki lain dan sel telur isteri kemudian dimasukkan ke rahim isteri

3.Pembuahan luar dari sperma suami dan sel telur isteri kemudian dimasukkan ke rahim perempuan lain, walaupun dengan bayaran.

4.Pembuahan luar dari sperma laki – laki lain dan sel telur perempuan lain kemudian dimasukkan ke rahim Isteri.

2 cara yang halal / diperbolehkan :

1.Pembuahan luar dari sperma suami dan sel telur isteri kemudian dimasukkan ke rahim Isteri

2.Mengambil sperma dari suami kemudian dimasukkan ke farj isteri atau ke rahim isteri (pembuahan dalam)

Keempat cara yang diharamkan dan dilarang karena menyebabkan ikhtilat atau kekacauan nasab. Dua cara yang diperbolehkan karena hajat / kebutuhan dan nasab kembali ke kedua orang tua.

Sabtu, 28 Februari 2015

Sanad dari IMAM ABDULLAH BIN ALWI ALHADDAD

اَللَّهُمَّ اِنِّيْ اَسْاَلُكَ مِنْ فُجَاةِ الْخَيْرِ ، وَاَعُوْذُ بِكَ مِنْ فُجَاَةِ الشَّرِّ

Wahai Allah sungguh aku minta kepada-Mu kejutan kebaikan dan aku berlindung kepada- Mu dari kejutan- kejutan yang buruk.

« : عن أنس ، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يدعو بهذه الدعوات إذا أصبح وإذا أمسى
اللهم إني أسألك من فجأة الخير ، وأعوذ بك من فجأة الشر ، فإن العبد لا يدري ما يفجؤه إذا أصبح
وإذا أمسى »

Dari Anas ra bahwa Rasulullah saw berdoa dengan doa doa ini jika pagi dan sore : Allahumma inniy as’aluka…dst, sungguh seorang hamba tak tahu apa yang akan menimpanya di pagi atau sore” (Musnad Abi Ya’la Almuushiliy)